News Update :

PPM VOLUNTEER

OR : PPM Volunteer.




Bismillahirrohmanirrohim.

Visi:
Menjadikan pemuda-pemudi muslim Berkarakter untuk membangun masyarakat yang madani dan mandiri

Misi
1. Melahirkan pemuda-pemudi yang bertakwa kepada Allah SWT.
2. Menjadikan Pemuda yang mencintai Allah, Agama, Rasul serta Al-Qur'an
3. Melahirkan pemuda-pemudi yang terampil.
4. Menjadikan masyarakat yang cerdas dalam ekonomi, sosial dan masyarakat
Tampilkan postingan dengan label doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label doa. Tampilkan semua postingan

PERKARA SEMANGKA

Selasa, 09 November 2010 04.51

Oleh: Anthony de Mello

Tiga orang anak yang dituduh telah mencuri buah semangka
dibawa ke pengadilan dan menghadap hakim dengan perasaan
takut. Mereka berpikir akan menerima hukuman berat karena
hakim itu dikenal sebagai orang yang sangat keras.

Hakim itu juga seorang pendidik yang bijaksana. Dengan satu
ketokan palu ia berkata, "Kalau di sini ada orang yang
ketika masih anak-anak belum pernah mencuri buah semangka,
silakan tunjuk jari." Ia menunggu. Para pegawai pengadilan,
polisi, pengunjung - dan hakim sendiri - tetap meletakkan
tangan mereka di meja mereka.

Ketika sudah puas melihat bahwa tidak ada satu jari pun yang
diangkat dalam sidang itu, hakim itu berkata, "Perkara
ditolak."


Cerita di atas merupakan bagian dari kumpulan cerita Doa Sang Katak - Anthony de Mello, temukan selengkapnya di sini.

PERUMPAMAAN TENTANG ALAT PENOPANG

Minggu, 07 November 2010 19.43

Oleh: Anthony de Mello

Karena suatu kecelakaan, seorang kepala desa tidak dapat
lagi menggunakan kakinya. Maka ia berjalan dengan alat
penopang. Lama kelamaan ia dapat berjalan dengan cepat -
bahkan ia dapat berdansa dan melingkar-lingkar untuk
menghibur tetangga-tetangganya.

Lalu ia mendapat gagasan untuk melatih anak-anaknya
menggunakan alat penopang. Dalam waktu singkat berjalan
dengan penopang menjadi lambang kedudukan yang tinggi di
desa itu dan semua orang menggunakannya.

Sampai pada keturunan keempat tidak seorang pun di desa itu
dapat berjalan tanpa penopang. Sekolah di desa itu
memasukkan pelajaran "Alat penopang - Teori - Praktek"
matapelajarannya, dan tukang kayu di desa itu menjadi
terkenal karena mutu alat penopang yang mereka hasilkan.
Bahkan dibicarakan kemungkinan untuk mengembangkan alat
penopang listrik, yang digerakkan baterei.

Pada suatu hari seorang pemuda Turki menghadap para penatua
desa dan bertanya mengapa semua orang harus berjalan dengan
penopang padahal Allah telah memberikan kaki kepada manusia
untuk berjalan. Para penatua desa itu merasa geli karena
orang baru ini merasa lebih bijaksana daripada mereka. Maka
mereka memutuskan untuk memberi pelajaran kepadanya. Mereka
berkata, "Mengapa engkau tidak menunjukkan caranya kepada
kami?"

"Baik," kata pemuda itu.

Acara pertunjukan ditentukan akan diadakan pada jam 10.00
hari Minggu berikutnya di lapangan desa. Ketika pemuda itu
berjalan terpincang-pincang dengan alat penopang ke tengah
lapangan, semua orang berada di sana. Dan ketika jam desa
menunjukkan pukul sepuluh, pemuda itu berdiri tegak dan
menanggalkan alat penopangnya. Gerombolan orang itu terdiam
ketika ia melangkah maju dengan berani - dan jatuh
tertelungkup.

Dengan itu semua orang semakin diyakinkan bahwa sungguh
tidak mungkin berjalan tanpa bantuan alat penopang.


Cerita di atas merupakan bagian dari kumpulan cerita Doa Sang Katak - Anthony de Mello, temukan selengkapnya di sini.

ARTI GENDERANG

19.43

Oleh: Anthony de Mello

Sekelompok misionaris yang baru saja tiba, meminta seorang
penduduk asli untuk membawa mereka dalam rakit di sungai
Kongo.

Sesudah beberapa saat mereka mendengar dentaman gendang
hutan yang tetap. Sepanjang perjalanan, dalam selang waktu
yang tetap, suara itu diulang-ulang.

"Apa arti dentaman gendang itu?" tanya salah seorang
misionaris dengan rasa takut.

"Penduduk asli itu mendengarkan gendang dan mengartikannya:
'Gendang itu berkata: tiga orang kulit putih. Sangat kaya.
Naikkan harga-harga.'"

Saadi dari Shiraj biasa berkata, "Tidak seorang pun yang
belajar memanah dari saya, yang pada akhirnya tidak
menjadikan saya sasaran bidikannya."


Cerita di atas merupakan bagian dari kumpulan cerita Doa Sang Katak - Anthony de Mello, temukan selengkapnya di sini.

AKHIRNYA PASTOR MENGERTI

19.42

Oleh: Anthony de Mello

Dongeng Ramakrishna, seorang mistik di Calcutta

Ada seorang raja yang setiap hari mendengarkan kisah
Bhagavad Gita yang dibawakan oleh seorang imam. Setelah
menjelaskan isinya imam itu biasanya bertanya, "Sudahkah
Baginda memahami yang saya katakan?"

Sang Raja tidak pernah mengatakan Ya atau Tidak. Ia hanya
berkata, "Sebaiknya engkau sendiri memahaminya lebih dulu."

Jawaban ini selalu membuat sedih imam yang malang, yang
setiap hari menghabiskan banyak waktu untuk mempersiapkan
pengajaran bagi Raja. Ia sendiri yakin bahwa pengajarannya
jelas dan terang.

Imam itu adalah seorang pencari Kebenaran yang tulus. Suatu
hari ketika ia sedang bermeditasi, tiba-tiba ia melihat
sifat semu - kenyataan yang nisbi - dari segala sesuatu,
rumah, saudara, kekayaan, sahabat, kehormatan, nama baik dan
semua yang lain. Begitu jelas ia melihatnya, sehingga semua
keinginan akan hal-hal itu lenyap dari hatinya. Ia
memutuskan untuk meninggalkan rumah dan menjadi seorang
petapa pengembara.

Sebelum meninggalkan rumahnya, ia mengirimkan pesan kepada
sang Raja, "Baginda Raja! Akhirnya saya memahami."


Cerita di atas merupakan bagian dari kumpulan cerita Doa Sang Katak - Anthony de Mello, temukan selengkapnya di sini.d

PAUS MENGADAKAN PANTOMIM

Sabtu, 06 November 2010 06.10

Oleh: Anthony de Mello

Lama, beratus-ratus tahun yang lalu, di zaman Abad Tengahan
Sri Paus didesak oleh para penasihatnya untuk mengusir orang
Yahudi dari Roma. Tidak selayaknya, kata mereka, bahwa
orang-orang ini hidup tak terganggu di tengah pusat Agama
Katolik. Ketentuan tentang Pengusiran diputuskan dan
diumumkan, menjadi keresahan bagi orang Yahudi yang tahu
bahwa bagaimanapun juga, mereka hanya bisa mendapat
perlakuan lebih jelek dari yang diterima di Roma. Maka
mereka mohon kepada Paus, untuk meninjau kembali keputusan
itu. Paus, orang berpikiran luas, menawarkan suatu usul yang
menarik. Silakan golongan Yahudi menunjuk orang yang
berdebat dengan dia tanpa berbicara, pantomim. Jika
jurubicara mereka menang, mereka boleh tinggal.

Orang Yahudi bertemu merenungkan usul ini. Menolaknya
berarti diusir dari Roma. Menerimanya itu mengundang
kekalahan total, sebab siapa menang dalam debat, di mana
Paus menjadi peserta dan wasitnya? Namun tidak ada jalan
lain kecuali menerima. Hanya, barang tidak mungkin menemukan
seorang sukarelawan untuk tugas berdebat dengan Paus. Beban
memikul nasib seluruh kelompok Yahudi di punggungnya itu
lebih daripada yang dapat ditanggung oleh seseorang.

Ketika tukang pintu sinagoga mendengar apa yang sedang
terjadi, ia menghadap rabbi Tertinggi dan menawarkan diri
untuk mewakili bangsanya dalam debat. "Tukang pintu?" kata
rabbi lainnya, ketika mendengar itu. "Tidak mungkin!"

"Sudah," kata rabbi Tertinggi, "kita tidak ada yang mau.
Tinggal ini; si tukang pintu atau debat batal." Maka karena
tidak ada orang lain, tukang pintu ditunjuk untuk berdebat
dengan Paus.

Ketika hari besar datang, Paus duduk di atas tahta di
alun-alun St. Petrus, dikelilingi oleh para Kardinal,
menghadapi rombongan besar para uskup, imam dan umat. Kini
rombongan kecil utusan Yahudi datang dengan jubah hitam dan
janggut melambai, serta tukang-pintu di tengah mereka.

Paus berpaling menghadap si tukang-pintu dan debat dimulai.
Paus resmi mengangkat satu jari dan menggariskannya melintas
di langit. Tukang pintu segera menunjuk dengan tegas ke
tanah. Paus rupanya sedikit mundur. Lebih anggun dan resmi
ia mengangkat jari lagi, tegas-tegas dihadapkan pada
tukang-pintu itu di mukanya. Tukang-pintu mengangkat tiga
jari menunjukkan sama tegasnya di hadapan Paus, yang
rupa-rupanya heran akan gerakan ini. Lalu Paus memasukkan
tangan dalam kantongnya dan mengambil sebuah apel. Di situ
tukang-pintu memasukkan tangan dalam kantong kertas dan
mengambil matzo, selempeng roti. Di sini Paus menyatakan
dengan suara nyaring: "Wakil orang Yahudi menang dalam
debat. Keputusan pengusiran dengan ini ditarik kembali."

Para pemimpin Yahudi mengelilingi tukang-pintu dan dibawa
pergi. Para kardinal berkerumun sekitar Paus
keheran-heranan. "Apa yang terjadi, Bapa Suci?" tanya
mereka. "Tidak mungkin kami mengikuti debat yang berjalan
begitu cepat." Paus mengusap peluh dari dahinya dan berkata:
"Orang ini teolog cemerlang, menguasai debat. Aku mulai
dengan menggariskan tanganku di langit untuk menunjukkan
bahwa seluruh alam raya itu milik Tuhan. Ia langsung dengan
jari ke bawah mengingatkan aku, bahwa ada tempat yang
disebut Neraka, di mana setan yang berkuasa. Aku lalu
mengangkat jari untuk menyatakan bahwa Tuhan itu esa. Aku
membayangkan heran, ketika ia mengangkat tiga jari untuk
menyatakan bahwa Tuhan yang satu itu juga menyatakan diri
dalam tiga pribadi, dan demikian meyakini ajaran kita
sendiri tentang Tritunggal! Tahu bahwa tidak mungkin untuk
menang di bidang teologi, aku akhirnya mengarahkan debat ke
bidang lain. Aku mengambil sebuah apel, menyatakan, bahwa
menurut sementara pendapat baru bumi ini bulat. Ia langsung
mengeluarkan selempeng roti tak beragi untuk mengingatkan
saya bahwa, menurut Kitab Suci, bumi itu datar. Maka tidak
ada jalan lain daripada mengakui kemenangannya."

Nah, sekarang kelompok Yahudi sampai di sinagoga. "Apa yang
terjadi tadi," tanya mereka kepada tukang-pintu
terbengong-bengong. Tukang-pintu sedikit gusar. "Semua hanya
soal latah," katanya. "Ini. Pertama, Paus menggerakkan
tangannya seperti menyatakan, bahwa semua orang Yahudi harus
meninggalkan Roma. Maka aku menunjuk ke bawah untuk
menjelaskan kepadanya, bahwa kita tidak akan beranjak. Lalu
ia menunjukkan jarinya kepadaku dan mengancam seakan
berkata: Jangan main-main dengan saya. Maka aku menunjukkan
tiga jari untuk mengatakan kepadanya ia tiga kali main-main
dengan kami, kalau ia sewenang-wenang menyuruh kami
meninggalkan Roma. Berikutnya. Aku melihat dia mengeluarkan
bekal makanannya. Lalu aku mengeluarkan bekalku juga."


Cerita di atas merupakan bagian dari kumpulan cerita Doa Sang Katak - Anthony de Mello, temukan selengkapnya di sini.

MARIA INGIN MENJADI WANITA P

06.09

Oleh: Anthony de Mello

Ketika Suster menanyai para murid di kelasnya, mereka mau
menjadi apa, kalau nanti besar, si Tonny kecil berkata,
bahwa ia ingin jadi pilot. Elsi berkata, ia ingin menjadi
dokter. Bobby menggembirakan Suster, karena ia ingin menjadi
imam. Lalu Maria berdiri dan menyatakan, ia ingin menjadi
wanita P.

"Apa katamu, Maria?"

"Kalau aku menjadi besar," kata Maria, dengan nada ia tahu
betul, apa yang ia maksud, "Aku ingin menjadi wanita P."

Suster terkejut bukan main. Maria terus diamankan dipisah
dari anak-anak yang lain dan dibawa menghadap pastor paroki.

Pastor diberi tahu masalahnya panjang lebar, tetapi ia ingin
mengecek itu pada si salah. "Ceritakan dengan katamu
sendiri, Maria!"

"Yah," kata Maria, agak malu-malu karena ribut-ribut tadi.
"Suster bertanya, aku ingin jadi apa kalau nanti besar dan
aku berkata ingin jadi wanita P."

"Wanita P. maksudnya pelacur?" tanya Pastor meneliti lagi.

"Ya Pelacur."

"Oh sokur! Lega, aku! Kami semua kira, engkau berkata,
engkau mau jadi P, Protestan!"


Cerita di atas merupakan bagian dari kumpulan cerita Doa Sang Katak - Anthony de Mello, temukan selengkapnya di sini.

BAGAIMANA MEMPERTAHANKAN CAWAT

06.08

Oleh: Anthony de Mello

Bagaimana organisasi rohani berkembang:

Guru amat terkesan oleh kemajuan rohani seorang dari
muridnya, hingga, karena dianggap tidak membutuhkan
bimbingan lagi, ia meninggalkannya sendirian di pinggir
sungai.

Setiap pagi setelah pembasuhan diri, si murid menggantungkan
cawatnya di luar untuk dijemur. Itu milik satu-satunya.
Suatu hari ia kecewa melihat cawatnya koyak tercabik-cabik
oleh tikus. Maka ia terpaksa meminta-minta sebuah cawat
sebagai ganti dari penghuni desa. Ketika cawat yang satu ini
lagi juga dilubangi oleh tikus-tikus ia memelihara seekor
kucing. Ia tidak lagi diganggu tikus, tetapi sekarang,
kecuali meminta-minta untuk makan sendiri, ia juga harus
meminta-minta susu untuk kucingnya.

"Terlalu banyak kerja dengan minta-minta," pikirnya, "dan
terlalu membebani penghuni desa. Aku akan memelihara lembu."
Ketika mendapat lembu, ia harus minta jerami. "Lebih mudah
mengerjakan tanah di sekitar gubug," pikirnya. Tetapi
ternyata ini repot juga, karena hanya tinggal sedikit waktu
untuk bermeditasi. Maka ia mempekerjakan buruh untuk
menggarap tanahnya. Sekarang mengawasi para buruh menjadi
tugasnya, maka ia mengambil seorang istri, yang membagi
tugas ini dengan dia. Tidak lama kemudian, tentu saja, ia
menjadi salah seorang yang terkaya di desa.

Bertahun-tahun kemudian Guru kebetulan lewat dan heran
melihat kediaman seperti istana, di mana dulu ada gubug. Ia
berkata kepada salah seorang hamba: "Apakah ini dulu bukan
tempat tinggal seorang muridku?"

Sebelum mendapat jawaban, murid sendiri muncul. "Apa arti
semuanya ini, anakku?" tanya sang Guru.

"Tuan tidak mau percaya akan hal ini." kata orang itu.
"Tetapi memang tidak ada jalan lain untuk mempertahankan
cawatku."


Cerita di atas merupakan bagian dari kumpulan cerita Doa Sang Katak - Anthony de Mello, temukan selengkapnya di sini.

KEINGINAN RABBI EKUMENIS

06.08

Oleh: Anthony de Mello

Di Belfast, Irlandia, Imam Katolik, Pendeta Protestan dan
rabbi Yahudi, terlibat dalam debat teologi sengit. Tiba-tiba
malaikat nampak di antara mereka dan berkata: "Tuhan
menyampaikan berkat. Ajukanlah satu permohonan damai dan
permohonan itu akan dikabulkan oleh Yang Mahakuasa."

Pendeta berkata: "Biar semua orang Katolik lenyap dari pulau
indah ini. Lalu damai akan berkuasa."

Imam berkata: "Jangan ada satu orang Protestan tinggal di
bumi suci Irlandia ini. Ini akan mendatangkan damai kepada
pulau ini."

"Dan bagaimana engkau rabbi?" kata malaikat, "Apa engkau
tidak punya permohonan sendiri?"

"Tidak," kata rabbi. "Perhatikan permohonan dua tuan ini
saja dan aku akan senang sekali!"

--o000o--

Anak putra kecil: "Apakah Kristen Baptis agamamu?"
Anak putri kecil: "Tidak, kami ikut pro-setan lain."


Cerita di atas merupakan bagian dari kumpulan cerita Doa Sang Katak - Anthony de Mello, temukan selengkapnya di sini.

AYAH SI KORBAN

06.07

Oleh: Anthony de Mello

... tetapi selalu ada risiko.

Kecelakaan mobil terjadi di sebuah kota kecil. Banyak orang
mengerumuni korban sehingga wartawan surat kabar tidak dapat
menerobos untuk melihat korban dari dekat.

Ia mendapatkan ide. "Saya ayah korban!" ia berseru. "Saya
minta jalan."

Kerumunan itu membiarkan dia lewat, sehingga ia dapat
memotret korban kecelakaan itu dan menemukan, yang membuat
dia malu, bahwa korbannya adalah keledai.


Cerita di atas merupakan bagian dari kumpulan cerita Doa Sang Katak - Anthony de Mello, temukan selengkapnya di sini.

TIGA ORANG BIJAK

06.04

Oleh: Anthony de Mello

Tiga orang bijak menempuh perjalanan jauh, sebab meskipun
mereka itu dianggap bijak di negara sendiri, mereka cukup
rendah hati untuk berharap, bahwa perjalanan akan memperluas
pikiran mereka.

Mereka baru saja melangkah ke perbatasan masuk negara
tetangga ketika mereka melihat gedung cakar-langit di
kejauhan. Apa kiranya benda dahsyat hebat ini, mereka
bertanya pada dirinya. Jawaban yang tepat tentunya: Datang
dan selidikilah benda itu apa. Tetapi tidak, mungkin itu
terlalu berbahaya. Seandainya itu sesuatu yang meletus kalau
orang mendekat? Maka jauh lebih bijaksana menentukan dulu
apa itu sebelum menyelidikinya. Berbagai pandangan diajukan,
diuji dan, atas dasar pengalaman mereka yang sudah-sudah,
ditolak. Akhirnya diputuskan, juga atas dasar pengalaman
masa silam, yang mereka miliki bertumpah-ruah, bahwa benda
tersebut, entah apa jenisnya, itu hanya bisa ditempatkan di
sana oleh kawanan raksasa.

Ini membawa mereka pada kesimpulan, bahwa lebih aman mereka
menyingkiri tanah itu sama sekali, maka mereka pulang
kembali setelah menambahkan sesuatu pada khasanah pengalaman
mereka.

Renungan

Pengandaian itu mempengaruhi Penelitian. Penelitian
menghasikan Keyakinan. Keyakinan menimbulkan Pengalaman.
Pengalaman membuahkan Tindakan, yang, pada gilirannya,
menguatkan pengandaian.


Cerita di atas merupakan bagian dari kumpulan cerita Doa Sang Katak - Anthony de Mello, temukan selengkapnya di sini.

TUHAN YANG MELUPAKAN DOSA-DOSA

06.04

Oleh: Anthony de Mello

Seorang nenek tua di desa diceritakan kerap memperoleh
penampakan dari Tuhan. Imam setempat minta bukti
kesungguhannya. "Kalau Tuhan nanti menampakkan diri lagi
padanya," katanya, "tanyakanlah pada-Nya dosa-dosaku, yang
hanya diketahui Dia. Itu akan menjadi bukti cukup."

Wanita itu kembali sebulan kemudian dan imam bertanya, apa
Tuhan sudah menampakkan diri lagi. Wanita berkata sudah.
"Apa pertanyaan itu kamu ajukan pada-Nya?"

"Ya, sudah."

"Dan apa jawabannya?"

"Ia berkata: "Katakan pada imammu, aku sudah lupa dosanya."

Apakah mungkin bahwa semua dosa mengerikan yang pernah kamu
lakukan itu sudah dilupakan oleh semua orang - kecuali oleh
kamu sendiri?


Cerita di atas merupakan bagian dari kumpulan cerita Doa Sang Katak - Anthony de Mello, temukan selengkapnya di sini.

GESSEN, RAHIB YANG RAKUS

06.03

Oleh: Anthony de Mello

Gessen itu seorang rahib Budha. Tetapi ia juga seniman
berbakat ulung. Sebelum ia mulai dengan melukis ia selalu
menuntut bayaran di muka. Dan upah ini besar luar biasa.
Maka ia dikenal sebagai rahib rakus.

Seorang geisha memanggil dia untuk menggambar. Gessen
berkata: "Kamu mau membayar berapa?" Perempuan itu kebetulan
melayani kekasih kaya di waktu itu. Ia berkata: "Apa saja
yang kamu minta. Tetapi lukisan harus dibuat sekarang di
hadapanku."

Gessen segera mulai bekerja dan ketika lukisan sudah
selesai, ia menuntut bayaran paling tinggi yang pernah ia
minta. Ketika Geisha itu memberikan uangnya, ia berkata
kepada kekasihnya. "Orang ini dianggap seorang rahib, tetapi
yang dipikirkan hanya uang. Bakatnya memang luar biasa,
tetapi pikirannya itu kotor, mata-duitan. Bagaimana orang
memamerkan lukisan orang berpikiran kotor seperti itu?
Karyanya itu baik untuk pakaian dalam bagiku."

Dengan itu ia melemparkan rok dalam kepadanya dan meminta
untuk menggambarkan lukisan padanya. Gessen bertanya seperti
biasa sebelum ia mulai dengan karyanya. "Kamu akan memberi
aku upah berapa?" "Oh, sebanyak yang kamu inginkan," kata
wanita itu. Gessen menyebut harganya, menggambarkan lukisan,
tanpa malu mengantongi uangnya, dan pergi.

Bertahun-tahun kemudian, ada seseorang yang menemukan
mengapa Gessen begitu rakus mengumpulkan uang. Bahaya
kelaparan kerap menimpa daerahnya. Orang kaya tidak perduli
menolong yang miskin. Maka Gessen menyuruh membangun
lumbung-lumbung rahasia di daerah itu dan mengisinya dengan
gandum bagi keadaan darurat. Tidak ada orang tahu, gandum
datang dari mana atau siapa penderma bagi wilayah itu.

Alasan lain, mengapa Gessen menginginkan uang itu: jalan
dari desanya menuju kota yang puluhan kilometer jauhnya.
Jalan itu dalam keadaan begitu jelek, hingga gerobag tidak
bisa berjalan di sana; hal ini menimbulkan banyak derita
bagi yang tua dan yang sakit, kalau mereka perlu pergi ke
kota. Maka Gessen menyuruh memperbaiki jalan.

Alasan terakhir adalah kuil untuk bermeditasi, yang selalu
dicita-citakan oleh guru Gessen, tetapi tidak dapat ia
laksanakan. Gessen membangun kuil itu sebagai tanda
terimakasih kepada guru yang dihormatinya.

Sesudah rahib rakus itu selesai membangun jalan, kuil dan
lumbung-lumbung, ia membuang cat dan kuas, kembali ke
gunung-gunung, untuk masuk dalam hidup berkontemplasi dan ia
tidak melukis lagi.

Perbuatan seseorang pada umumnya menunjukkan apa yang mau
ditafsirkan oleh pengamat.


Cerita di atas merupakan bagian dari kumpulan cerita Doa Sang Katak - Anthony de Mello, temukan selengkapnya di sini.

RAJA ADA DI FIRDAUS

06.03

Oleh: Anthony de Mello

Seorang raja mimpi, bahwa ia melihat raja di firdaus, dan
seorang imam di neraka. Ia heran, bagaimana ini bisa: lalu
ia mendengar suara berkata, "Raja ada di firdaus, karena ia
menghormati para Imam. Imam ada di neraka, karena ia
berkompromi dengan para raja."


Cerita di atas merupakan bagian dari kumpulan cerita Doa Sang Katak - Anthony de Mello, temukan selengkapnya di sini.

PIKIRAN AKAN TUHAN DAN WANITA CANTIK

06.02

Oleh: Anthony de Mello

Imam setempat kerap dilihat bicara dengan wanita cantik yang
terkenal sebagai perempuan jalang - dan di muka umum lagi,
menjadi batu sandungan bagi umatnya.

Ia dipanggil oleh uskupnya dan mendapat marah besar. Ketika
uskup sudah selesai, imam berkata: "Bapa uskup, Aku selalu
berpikir, bahwa lebih baik berbicara kepada wanita cantik
dengan gagasan tertuju kepada Tuhan daripada berdoa kepada
Tuhan, dengan pikiran tertuju kepada wanita cantik."

Kalau rahib masuk kedai minuman kedai itu menjadi
pertapaannya. Kalau pemabuk masuk pertapaan, pertapaan
menjadi kedai minumannya.


Cerita di atas merupakan bagian dari kumpulan cerita Doa Sang Katak - Anthony de Mello, temukan selengkapnya di sini.

PESAWAT PEMBURU

05.59

Oleh: Anthony de Mello
 
Pengandaian:
 
Serombongan pemburu menyewa pesawat untuk menerbangkan
mereka ke daerah hutan. Dua minggu kemudian pilot datang
untuk menjemput mereka. Ia mengamati binatang yang mereka
tembak dan berkata: "Pesawat ini tidak akan membawa lebih
dari satu kerbau liar. Kamu harus meninggalkan yang lain."
 
"Tetapi tahun lalu pilot mengizinkan kami membawa dua dalam
pesawat seperti ini," protes para pemburu.
 
Pilot meragukannya, tetapi akhirnya berkata: "Ya, kalau kamu
melakukan itu tahun lalu, kami kira, kami bisa melakukannya
lagi."
 
Maka pesawat lepas landas dengan tiga orang dan dua kerbau.
Tetapi tidak dapat naik tinggi dan membentur pada bukit
terdekat. Seorang pemburu berkata kepada yang lain: "Di mana
kiranya kami ini?" Yang lain memeriksa tempat sekitar dan
berkata: "Kupikir, kami kira-kira dua mil sebelah kiri dari
tempat kecelakaan kami tahun lalu."
 
Cerita di atas merupakan bagian dari kumpulan cerita Doa Sang Katak - Anthony de Mello, temukan selengkapnya di sini.

"LIHAT, SIAPA YANG MENGANGGAP DIRI SEORANG PENDOSA!"

05.58

Oleh: Anthony de Mello

Pada suatu hari seorang uskup berlutut di hadapan altar,
dalam perasaan hati berkobar, ia mulai memukul-mukul dada
dan berseru: "Aku seorang pendosa, kasihanilah aku. Aku
seorang pendosa, kasihanilah aku!"

Imam setempat, tergerak oleh contoh rendah hati, berlutut di
samping uskup dan mulai memukul-mukul dada dan berkata: "Aku
seorang pendosa, kasihanilah aku! Aku seorang pendosa,
kasihanilah aku!"

Koster, yang kebetulan ada di gereja di waktu itu begitu
terharu, ia tidak dapat menahan diri. Ia juga berlutut,
memukul-mukul dada dan berseru: "Aku seorang pendosa,
kasihanilah aku!"

Di sini uskup menyentuh imam, dan menunjuk kepada koster,
berkata dengan senyum. "Lihat, siapa yang menganggap diri
seorang pendosa."


Cerita di atas merupakan bagian dari kumpulan cerita Doa Sang Katak - Anthony de Mello, temukan selengkapnya di sini.

OOM YORIS?

05.57

Oleh: Anthony de Mello

Lagi-lagi pengandaian:

Sepasang suami-istri pulang dari pemakaman Oom Yoris, yang
hidup bersama mereka duapuluh tahun lamanya dan merupakan
beban begitu rupa hingga hampir berakhir menghancurkan
perkawinan mereka.

"Ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu, bu," kata suami,
"Jika tidak demi cintaku kepadamu, aku tidak mau tinggal
bersama Oom Yorismu satu hari saja."

"Aku punya Oom Yoris!" teriaknya gemetar, "Aku kira, Oom
Yoris itu punyamu!"


Cerita di atas merupakan bagian dari kumpulan cerita Doa Sang Katak - Anthony de Mello, temukan selengkapnya di sini.

PENDAPATAN DAN PELEPASAN

05.57

Oleh: Anthony de Mello

Dua rahib mengadakan perjalanan. Yang satu mengikuti
spiritualitas "pendapatan," yang lain lebih percaya akan
"pelepasan." Sepanjang hari mereka berdiskusi tentang
spiritualitas masing-masing, sampai malam mereka tiba di
pinggir sungai.

Kini yang percaya akan "pelepasan" tidak membawa uang, Ia
berkata: "Kami tidak bisa membayar tukang perahu untuk
menyeberangkan kami, tetapi mengapa memikirkan tubuh. Kami
bermalam di sini menyanyikan kemuliaan Tuhan, dan esok kami
pasti menemukan orang baik hati, yang akan membayar ongkos
penyeberangan kami..'

Yang lain berkata: "Di sisi sungai ini tidak ada desa, tidak
ada dukuh, gubug atau pondok. Kami akan ditelan binatang
buas atau digigit ular atau mati kedinginan. Di sisi sungai
lain kami akan bisa bermalam aman dan enak. Aku punya uang
untuk membayar tukang perahu."

Setelah mereka aman di sisi sungai lainnya, ia membuktikan
kepada temannya: "Tahu engkau, nilainya menyimpan uang? Aku
dapat menyelamatkan hidupmu dan hidupku. Apa yang terjadi
pada kita, seandainya aku ini orang pengikut "pelepasan"
seperti engkau."

Yang lain menjawab: "Karena engkau ikut pelepasan, maka
itulah yang menyeberangkan dan menyelamatkan kita, sebab
engkau membagi uangmu untuk membayar tukang perahu, bukan?
Apalagi karena tidak punya uang dalam kantongku, kantongmu
menjadi kepunyaanku Kulihat, aku tidak pernah kekurangan,
aku selalu dicukupi."


Cerita di atas merupakan bagian dari kumpulan cerita Doa Sang Katak - Anthony de Mello, temukan selengkapnya di sini.

NELAYAN MENJADI ORANG SUCI

05.55

Oleh: Anthony de Mello

Pada suatu malam seorang nelayan menyelinap di kebun orang
kaya dan menebarkan jalanya dalam kolam penuh ikan. Si
pemilik mendengarnya dan menyuruh peronda mengejar dia.

Ketika melihat orang banyak mencari dia ke mana-mana dengan
obor menyala, si nelayan cepat-cepat melumasi tubuhnya
dengan debu dan duduk di bawah pohon, seperti kebiasaan
orang-orang suci di India.

Pemilik dengan para perondanya tidak bisa menemukan pencuri,
meskipun dicari sampai lama. Yang ditemukan hanya seorang
suci, berlumuran debu duduk di bawah pohon tenggelam dalam
renungan.

Hari berikutnya tersiar kabar di mana-mana, bahwa seorang
bijak agung bermaksud tinggal menetap di halaman orang kaya
tadi. Orang berdatangan membawa bunga dan buah-buahan dan
makanan, dan bahkan banyak uang untuk menyampaikan hormat
bakti, karena ada kepercayaan bahwa derma, yang diberikan
kepada orang suci, menurunkan berkat Tuhan kepada pemberi.

Si nelayan jadi orang bijaksana, heran akan nasibnya yang
baik. "Lebih gampang cari nafkah dari kepercayaan
orang-orang ini daripada bekerja tangan," katanya kepada
dirinya. Maka ia terus merenung-renung dan tidak ingin
kembali bekerja lagi.


Cerita di atas merupakan bagian dari kumpulan cerita Doa Sang Katak - Anthony de Mello, temukan selengkapnya di sini.

MEMBELI KUPON LOTRE

05.52

Oleh: Anthony de Mello

Orang beragama saleh mengalami masa sulit. Maka ia mulai
berdoa cara berikut: "Tuhan, ingatlah tahun-tahun yang sudah
lewat aku mengabdi-Mu sebaik mungkin, tidak minta apa-apa
sebagai balasan. Sekarang aku sudah tua, bangkrut lagi.
Sekarang aku akan mohon kebajikan-Mu untuk pertama kalinya
di dalam hidup, dan aku yakin Engkau tidak akan berkata
Tidak: Biarlah aku putus lotre."

Hari - lewat- lalu minggu - lalu bulan. Tetapi tak terjadi
sesuatu. Akhirnya, hampir-hampir putus asa, ia berteriak
pada suatu malam. "Mengapa aku tak Kauberi kesempatan,
Tuhan?"

Ia tiba-tiba mendengar suara Tuhan menjawab, "Berilah aku
kesempatan dulu! Mengapa engkau tidak membeli kupon lotre?"


Cerita di atas merupakan bagian dari kumpulan cerita Doa Sang Katak - Anthony de Mello, temukan selengkapnya di sini.

Pergantian Bahasa

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google
 

© Copyright MS (Muslim Scientist) 2011 -2012 | Design by Febrian Iskandar | Published by Pemuda-Pemudi Muslim | Powered by Blogger.com.